IDENTIFIKASI RESPONS IKAN LELE (CLARIAS BATRACHUS) PADA ME DIA AIR TAWAR DAN AIR LAUT DI LABORATORIUM SAINS UNIVERSITAS NIAS

Authors

  • destalenta trisna laoli Universitas Nias
  • Nistiarni Zebua Universitas Nias
  • Destriman Laoli Universitas Nias

Abstract

ABSTRAK: Ikan lele (Clarias batrachus) merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Keberhasilan budidaya ikan lele sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan, terutama salinitas yang berperan dalam proses osmoregulasi dan keseimbangan fisiologis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons fisiologis dan perilaku ikan lele pada media air tawar dan air laut melalui pengamatan frekuensi operkulum, aktivitas gerak, respons terhadap pakan, kondisi fisiologis, dan tingkat kelangsungan hidup. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Sains Universitas Nias menggunakan metode eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu P0 (100% air tawar), P1 (50% air tawar + 50% air laut), dan P2 (100% air laut). Pengamatan dilakukan selama 30 menit dengan interval waktu lima menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas memberikan pengaruh yang berbeda terhadap respons ikan lele. Pada perlakuan P0, ikan menunjukkan kondisi fisiologis normal dengan rata-rata frekuensi operkulum sebesar 328,33 kali per 5 menit dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 100%. Pada perlakuan P1, ikan masih mampu bertahan hidup hingga akhir pengamatan dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, namun menunjukkan tanda-tanda stres berupa perilaku agresif pada awal pengamatan, penurunan aktivitas, dan tidak merespons pakan yang diberikan. Rata-rata frekuensi operkulum pada perlakuan ini sebesar 231,17 kali per 5 menit. Sementara itu, pada perlakuan P2 terjadi stres osmotik yang berat ditandai dengan gerakan lambat, mulut mangap, produksi lendir berlebih, dan berhentinya aktivitas operkulum pada menit ke-16 sehingga seluruh ikan mengalami kematian dengan tingkat kelangsungan hidup 0%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan salinitas menyebabkan penurunan kemampuan adaptasi fisiologis ikan lele. Ikan lele memiliki toleransi yang baik pada air tawar dan masih mampu bertahan pada media semi-salin, tetapi tidak mampu beradaptasi pada media air laut penuh.

Author Biographies

Nistiarni Zebua, Universitas Nias

ABSTRAK: Ikan lele (Clarias batrachus) merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Keberhasilan budidaya ikan lele sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan, terutama salinitas yang berperan dalam proses osmoregulasi dan keseimbangan fisiologis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons fisiologis dan perilaku ikan lele pada media air tawar dan air laut melalui pengamatan frekuensi operkulum, aktivitas gerak, respons terhadap pakan, kondisi fisiologis, dan tingkat kelangsungan hidup. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Sains Universitas Nias menggunakan metode eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu P0 (100% air tawar), P1 (50% air tawar + 50% air laut), dan P2 (100% air laut). Pengamatan dilakukan selama 30 menit dengan interval waktu lima menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas memberikan pengaruh yang berbeda terhadap respons ikan lele. Pada perlakuan P0, ikan menunjukkan kondisi fisiologis normal dengan rata-rata frekuensi operkulum sebesar 328,33 kali per 5 menit dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 100%. Pada perlakuan P1, ikan masih mampu bertahan hidup hingga akhir pengamatan dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, namun menunjukkan tanda-tanda stres berupa perilaku agresif pada awal pengamatan, penurunan aktivitas, dan tidak merespons pakan yang diberikan. Rata-rata frekuensi operkulum pada perlakuan ini sebesar 231,17 kali per 5 menit. Sementara itu, pada perlakuan P2 terjadi stres osmotik yang berat ditandai dengan gerakan lambat, mulut mangap, produksi lendir berlebih, dan berhentinya aktivitas operkulum pada menit ke-16 sehingga seluruh ikan mengalami kematian dengan tingkat kelangsungan hidup 0%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan salinitas menyebabkan penurunan kemampuan adaptasi fisiologis ikan lele. Ikan lele memiliki toleransi yang baik pada air tawar dan masih mampu bertahan pada media semi-salin, tetapi tidak mampu beradaptasi pada media air laut penuh.

Destriman Laoli, Universitas Nias

ABSTRAK: Ikan lele (Clarias batrachus) merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Keberhasilan budidaya ikan lele sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan, terutama salinitas yang berperan dalam proses osmoregulasi dan keseimbangan fisiologis ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons fisiologis dan perilaku ikan lele pada media air tawar dan air laut melalui pengamatan frekuensi operkulum, aktivitas gerak, respons terhadap pakan, kondisi fisiologis, dan tingkat kelangsungan hidup. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Sains Universitas Nias menggunakan metode eksperimen dengan tiga perlakuan, yaitu P0 (100% air tawar), P1 (50% air tawar + 50% air laut), dan P2 (100% air laut). Pengamatan dilakukan selama 30 menit dengan interval waktu lima menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas memberikan pengaruh yang berbeda terhadap respons ikan lele. Pada perlakuan P0, ikan menunjukkan kondisi fisiologis normal dengan rata-rata frekuensi operkulum sebesar 328,33 kali per 5 menit dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 100%. Pada perlakuan P1, ikan masih mampu bertahan hidup hingga akhir pengamatan dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, namun menunjukkan tanda-tanda stres berupa perilaku agresif pada awal pengamatan, penurunan aktivitas, dan tidak merespons pakan yang diberikan. Rata-rata frekuensi operkulum pada perlakuan ini sebesar 231,17 kali per 5 menit. Sementara itu, pada perlakuan P2 terjadi stres osmotik yang berat ditandai dengan gerakan lambat, mulut mangap, produksi lendir berlebih, dan berhentinya aktivitas operkulum pada menit ke-16 sehingga seluruh ikan mengalami kematian dengan tingkat kelangsungan hidup 0%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan salinitas menyebabkan penurunan kemampuan adaptasi fisiologis ikan lele. Ikan lele memiliki toleransi yang baik pada air tawar dan masih mampu bertahan pada media semi-salin, tetapi tidak mampu beradaptasi pada media air laut penuh.

Published

2025-12-13